Sabtu, 14 April 2012

Pemenuhan Kebutuhan Pokok di Indonesia




Krisis berkepanjangan yang melanda Indonesia membawa akibat yang serius terhadap penghidupan masyarakat. Masyarakat dihadapkan dengan masalah susahnya mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Terbelenggu dalam kemiskinan dan jauh dari terpenuhinya kebutuhan pokok adalah dampak nyata akibat peristiwa ini. Kondisi ini diperparah dengan ketidakpedulian pemerintah terhadap kesulitan yang melanda rakyatnya. Pemerintah menaikkan haraga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang otomatis akan mendorong harga kebutuhan pokok lainya juga meningkat. Terlebih lagi kebijakan impor pemerintah yang membebasakan biaya masuk yang menyebabkan adanya budaya ketergantungan masyarakat.
Kebutuhan pokok manusia merupakan sesuatu yang utama dan harus dipenuhi oleh manusia. Kebutuhan manusia yang terus meningkat menyebabkan ilmu pengetahuan dan teknologi juga semakin meningkat. Kebutuhan pokok manusia adalah sandang, pangan dan papan terutama diproduksi oleh sumber daya hayati.


Pangan adalah kebutuhan paling utama manusia. Pangan dibutuhkan manusia secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Manusia membutuhkan karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral dalam makanannya. Di Indonesia sebagian besar (90%) kebutuhan pangan berasal dari tumbuhan, sisanya dari hewan darat (3%) dan ikan (7%). Sembilan Bahan Pokok atau sering disingkat Sembako adalah sembilan jenis kebutuhan pokok masyarakat menurut keputusan Menteri Industri dan Perdagangan no. 115/mpp/kep/2/1998 tanggal 27 Februari 1998. Kesembilan bahan itu adalah : beras dan sagu, gula pasir, sayur-sayuran dan buah-buahan, daging sapi dan ayam, minyak goreng dan margarin, susu, jagung, minyak tanah atau gas ELPIJI dan garam beriodium.


Masalah ketersediaan pangan di Indonesia berhubungan erat dengan tekanan penduduk, namun hubungan ini sangat rumit karena adanya berbagai factor yang berinteraksi. Antara lain yaitu : perkembangan ekonomi, tingkat kemiskinan, penyebaran sumber daya (makanan) yang tidak merata, iklim (seperti kekeringan) dan gejolak politis. Masalah pangan tidak selalu disebabkan oleh kurangnya pangan, tetapi dapat juga karena akses pada persediaan. Untuk mendapatkan pangan saat ini mulai menjadi gaya hidup atau life style. Sehubungan ada jenis makanan yang beragam di antara daerah dan unik per restoran atau rumah makan, wisata kuliner digali sebagai salah satu nilai jual untuk bidang wisata baik untuk wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara.

Tetapi saat ini Indonesia sebagai negara Agraris tetap saja masih bergantung pada negara asing untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Padahal sebenarnya Indonesia memiliki kemampuan dalam pemenuhan pangan dalam negeri. Oleh karena itu Indonesia sudah seharusnya tidak lagi mengimpor produk dari luar negeri untuk pemenuhan kebutuhan rakyat. Peningkatan kesejahteraan rakyat bisa digalakkan jika pemerintah berani mengambil langkah untuk tidak lagi mengandalkan produk luar negeri. Sebagai contoh pemakaian benih hibrida impor. Sebenarnya pemakaian benih hibrida impor menuai banyak penolakan. Banyak benih padi unggul dalam negeri yang kualitasnya jauh lebih baik dari hibrida tersebut. Benih hibrida adalah benih yang sengaja diciptakan melalui teknologi
untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, kesalahannya benih hibrida seringkali didatangkan dari luar negeri dan dikembangkan di Indonesia. Upaya peningkatan pembangunan kualitas manusia juga harus diimbangi dengan pemenuhan faktor protein khususnya protein hewani sangat dibutuhkan. Untuk itu perlu pengoptimalan potensi produksi pertanian, peternakan dan perkebunan lokal.
Muhammad Yunus (Pemenang Nobel Perdamaian tahun 2006) dari Bangladesh pernah berkunjung dan memberikan kuliah umum di Istana negara mengatakan bahwa pada 2030 kemiskinan di Indonesia akan menjadi nol dan pada 2015 pemerintah mampu mengurangi kemiskinan kemiskinan. Karena itu, pengentasan kemiskinan di Indonesia merupakan persoalan utama bagi pemerintah. Benar atau tidaknya pendapat ini kembali pada pemerintah dan masyarakat sendiri. Sudah saatnya perubahan harus segera dilakukan, saat ini bukan besok. Perlu adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat guna mencapai adanya kemandirian dan pengentasan kemiskinan.

Folia: zohratul n dewi

Tidak ada komentar: